Bagaimana menjadi seorang Praktisi User Experience (UX)?   Recently updated !


Rangkuman: Menjadi seorang praktisi UX adalah suatu proses yang dimulai sebagai seorang simpatisan UX.

by Adi Tedjasaputra

NFC Usability Testing.

Di awal tahun 2016 ini, saya membaca sebuah artikel menarik yang diposting di grup Facebook oleh salah satu anggota komunitas CHI UX Indonesia mengenai definisi penelitian UX dan perancangan UX.

Sebagai seorang praktisi UX di Indonesia berlatar belakang insinyur elektronika, komputer, perangkat lunak dan ahli bahasa, TIK dan pendidikan, serta penggagas bisnis UX pertama di Indonesia sejak tahun 2002, saya mengamati perkembangan bidang HCI dan UX yang cukup menarik di tanah air. Pada dasarnya, memang perlu kita akui bahwa sampai saat ini belum ada kesepakatan mengenai definisi UX yang universal ataupun sertifikasi praktisi UX yang profesional di Indonesia.

Mengomentari artikel berjudul “UX Research vs. UX Design” yang ditulis oleh Ashley Karr dan Skot Carruth di majalah Interactions tersebut, saya tergelitik oleh tema “rangkaian kesatuan” atau “continuum” yang diangkat oleh penulis. Istilah “rangkaian kesatuan” sering saya pakai untuk menjelaskan berbagai konsep UX yang bernuansa multidisiplin dan multidimensi. Penggunaan konsep “rangkaian kesatuan” di bidang UX pada khususnya memang cocok karena bidang UX ini sangat dinamis dan masih berkembang dengan pesat termasuk di Indonesia.

Sebagai contohnya, ketika berbicara mengenai rancangan responsive (responsive design), seringkali banyak yang terpaku pada masalah teknis dimana hal yang kita lihat di layar atau perangkat lainnya mempunyai tampilan dan fungsi yang optimal, estetik dan konsisten. Namun saya selalu menekankan bahwa dalam UX, hal lain seperti kepentingan yang unik dari berbagai pemangku kepentingan, omni-channel, dan banyak hal lainnya untuk mencapai tujuan bisnis sangatlah penting. Misalnya, dengan penggunaan fitur pengingat langkah pembelian otomatis, sebuah usaha bisnis dapat meningkatkan tingkat pembelian online dan mengurangi tingkat kegagalan transaksi. “Insight” ini dapat diperoleh berdasarkan hasil penelitian perilaku dalam pembelian produk dan layanan online.

Menurut Skot dan Ashley, salah satu cara untuk mendefinisikan konsep multidisiplin UX adalah dengan menganggapnya sebagai suatu perspektif atau lensa untuk melihat produk, layanan dan organisasi Anda dan lensa yang dipakai pengguna untuk mengamati Anda. Dengan kata lain, siapa saja yang bisa memakai “lensa” ini bisa dianggap sebagai praktisi UX. Coba bayangkan kalau semua orang yang memakai peralatan memasak dapat dianggap sebagai “koki”. Mungkin nantinya kita semua yang dapat memakai peralatan memasak dapat bergabung dengan Reserve, sebuah model bisnis “Uber” yang pada nantinya memungkinkan semua orang menjadi “koki profesional”, mirip seperti Uber dimana semua orang yang bisa mengendarai mobil bisa menjadi “supir profesional”.

Lalu siapakah yang dapat dianggap sebagai seorang praktisi UX?

Persona, Storyboard, dan Prototype dalam sebuah proses Agile UX.

Menurut hemat saya, istilah yang lebih cocok dipakai untuk seseorang yang “dapat melihat produk, layananan, atau organisasi melalui perspektif atau lensa pengguna” bukanlan praktisi UX, tetapi simpatisan UX. Seorang simpatisan UX mempunyai kompetensi yang bukan hanya memungkinkannya untuk mengerti produk, layanan, dan organisasi sebagai suatu ekosistem yang terdiri dari berbagai pemangku kepentingan. Seorang simpatisan UX juga harus dapat melihat ekosistem tersebut dari berbagai sudut pandang pemangku kepentingan. Yang membedakan seorang simpatisan UX dengan seorang praktisi UX adalah pengetahuan dan pengalaman untuk memakai berbagai teknik dan perangkat UX untuk mencapai hasil yang optimal berdasarkan teori dan “insight” yang kontekstual.

Mengacu pada definisi praktisi UX di atas, UX Indonesia memperkenalkan sertifikasi UX (UX Certification) untuk para peserta pelatihan UX yang diadakan secara berkala di Jakarta. Berdasarkan konsep unik bahwa untuk menjadi seorang praktisi UX yang efektif dan efisien, diperlukan pengetahuan dan pengalaman yang cukup, di pelatihan-pelatihan UX yang sudah dilaksanakan oleh UX Indonesia selama 15 tahun terakhir, peserta diberikan kesempatan untuk mencerna berbagai ilmu UX dan juga mempraktekkan berbagai metoda, pendekatan, dan perangkat UX secara langsung dalam pelatihan-pelatihan tersebut.

Semua pelatihan yang diberikan oleh UX Indonesia berdasarkan hasil penelitian pengguna (user research) dari berbagai kasus internasional dan di Indonesia dan pengalaman pendiri UX Indonesia yang secara akumulatif mencapai lebih dari 25 tahun, dan bukan hanya pendapat pribadi narasumber UX atau diskusi dari beberapa proyek terakhir yang beberapa tahun terakhir ini menjamur di Indonesia. Apabila Anda tertarik, silahkan menggunakan kesempatan langka menjadi bagian dari program sertifikasi UX yang pertama di Indonesia yang akan dimulai dengan seri pertama bertopik “UX Tools in a Nutshell” pada tanggal 22 Januari 2016 di Jakarta.

About Adi Tedjasaputra

Adi Tedjasaputra.As the Co-Founder and Principal Consultant of UX Indonesia, Adi Tedjasaputra, MSc has more than 15 years of experience helping companies, educational and non-profit organisations in Europe and Asia Pacific to achieve their business goals and make the best investment in ICT. He is the Co-founder of the first UX business in Indonesia.

With his engineering and computer science background, he has introduced forward-thinking and innovative projects that improve the bottom line of businesses in different vertical industries through Human-centred design, computing and engineering. His current interests include the Internet of Things, Human-centred Computing, Computational Thinking, e-Learning, Moodle, WordPress and Agile UX.

Share it with others

Facebooktwittergoogle_pluslinkedinFacebooktwittergoogle_pluslinkedin