Effective and Affective User Interface Design


Kita mungkin sering berfikir mengenai “Apakah tampilan atau UI dari produk digital kita sudah bagus dan menarik? Pernahkah kita berpikir apakah tampilan produk digital kita sudah memberikan pengaruh kepada pengguna? Atau apakah tampilan produk kita sudah efektif untuk digunakan pengguna?”
Pada sesi setelah istirahat di jelaskan mengenai Design Sprint. Semua peserta mendapat kelompoknya masing-masing untuk melakukan Mini Design Sprint dengan memikirkan produk mereka masing-masing.

Lewat pelatihan umum UX Indonesia bulan November 2017 kali ini, para peserta diharapkan dapat menguasai prinsip fundamental perancangan antarmuka (UI), mengerti kriteria sukses dalam merancang dan mengaplikasikan prinsip antar muka yang efektif dan afektif. Kegiatan yang cukup ramai bukan hanya memberikan wawasan baru mengenai teori dan hukum yang benar mengenai efektif dan afektif UI, tetapi juga praktek langsung bagaimana seharusnya proses perancangan UI yang efektif dan afektif harus dilakukan.

<strong/>Effective and Affective User Interface Design

Di awal acara, peserta mendapatkan materi dari Dr Eunice Sari mengenai UI dalam contoh sehari-hari dan hal-hal penting apa yang harus diperhatikan untuk membuat UI yang baik untuk sebuah produk. Karena peran UI sangat penting dalam keberhasilan sebuah produk.

Perancangan yang baik akan mempengaruhi kenyamanan dan tingkat kebergunaan dari produk digital. Tingkat efektivitas UI dari sebuah produk sangat berpengaruh dalam pengalaman pengguna. Ada beberapa poin yang harus dipenuhi untuk meningkatkan efektivitas sebuah produk yaitu: clear, familiar, consistent, efficient, concise, responsive, attractive dan forgiving.

Selain efektifitas, tingkat afektivitas juga adalah faktor lain yang mendukung keberhasilan sebuah produk. Afektivitas berhubungan dengan pengalaman emosi yang didapat pengguna ketika berinteraksi dengan sebuah produk. Hal yang perlu dipikirkan dengan seksama dalam sebuah perancangan, misalnya apabila kita ingin membuat sebuah aplikasi untuk orang Indonesia, maka kita harus mempelajari lebih seksama perilaku dan sifat-sifat orang Indonesia.

Setelah melihat sisi afektifitas yang ingin dicapai dari sebuah produk yang dikembangkan langkah selanjutnya adalah merealisasikan konsep dalam bentuk yang nyata. Kita tentu banyak melihat berbagai contoh dari portfolio-portfolio atau sesuatu yang dianggap best practice yang ada di luar sana. Tetapi apakah mereka telah sesuai dengan kebutuhan kita dengan kaidah yang benar? Setiap elemen yang diletakkan di layar harus memiliki arti dan fungsi visual yang jelas. Berbagai panduan UI seperti material design, fluent design dan human interface guideline bisa digunakan untuk membuat UI yang lebih baik.

<strong/>Effective and Affective User Interface Design
Perancangan UI yang baik tentunya memerlukan sebuah proses yang bukan hanya cepat melainkan tepat guna. Lewat pelatihan ini pengguna diberikan kesempatan untuk mengaplikasikan beberapa elemen dari Google Design Sprint yang berhubungan langsung dalam pengembangan sebuah antar muka.Beberapa elemen tersebut ialah mengetahui target pengguna, membuat goal yang jelas dan dapat dicapai dalam waktu yang singkat, proses pengembangan konsep, penajaman ide dan perancangan UI dilalui dengan singkat dan padat.

Latihan perancangan UI dengan menggunakan konsep Time Boxing sempat membuat peserta sedikit kelabakan pada awalnya karena masih belum terbiasa untuk bekerja dengan waktu yang dibatasi. Konsep time boxing ini diaplikasikan dari metode Google Design Sprint di mana setiap peserta dipaksa dalam waktu tertentu untuk menyelesaikan sebuah tindakan. Tujuan kegiatan ini adalah untuk menghasilkan yang terbaik dalam waktu yang singkat (efektif dan efisien).

Pada akhir kegiatan pelatihan ini semua setiap peserta sangat puas dan gembira karena mereka bisa mempelajari dengan lengkap apakah UI yang efektif dan efisien dan menghasilkan prototipe interaktif yang dibuat dengan metode UX yang benar.

<strong/>Effective and Affective User Interface Design
Seorang peserta (GN) mengaku bahwa dia mendapat banyak insight dari apa yang Dr Eunice bagikan, misalnya ketika Dr Eunice memberikan statement bahwa “Ketika kita mendesain suatu aplikasi kita tidak hanya menanyakan seperti apa bentuk aplikasi yang kita inginkan kepada atasan kita, tetapi juga menanyakan langsung dengan pengguna kita”. Gina setuju dengan apa yang Dr Eunice karena menurutnya top-down approach inilah yang seringkali terjadi di sebuah perusahaan.

Sangat diharapkan bahwa setiap peserta yang sudah hadir di dalam acara ini bisa memiliki mindset yang benar ketika kembali ke tempat kerjanya masing-masing dan mengaplikasikan apa yang sudah dipelajari lewat kegiatan training ini.

Kami dari UX Indonesia berharap teman-teman sekalian bisa go to the next step dengan menghadiri pelatihan umum UX Indonesia di bulan Desember 2017 di mana kita akan belajar mengenai Measuring User Experience, sebuah langkah lebih lanjut dari semua kegiatan UX yang sudah dilakukan sebelumnya untuk mengukur seberapa jauh keberhasilan kita dalam mengimplementasikan UX

Share it with others

Facebooktwittergoogle_pluslinkedinFacebooktwittergoogle_pluslinkedin

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *